berbagi pada orang di lingkunganmu…

Begitulah tantangan yang diberikan di penghujung tahun 2014 melalui pesan di telepon selular. Mudah? bisa jadi. Sulit? bisa jadi. Malam itu, tantangan tersebut tidak begitu lama terbersit di pikiran karena si Unyil minta diperhatikan penuh.

Esoknya, tantangan ini mulai dipikirkan dengan lebih. Yang pertama dipikirkan adalah ‘siapa’. Ya pada siapa saya akan berbagi. Pada anak-anak? remaja? ibu-ibu? bapak-bapak?.

Setelah berpikir dengan seksama, akhirnya saya putuskan untuk berbagi dengan para ibu. Alasannya? Pertama, sosok ibu berperan besar dalam keluarga untuk menentukan apapun sehingga apa yang dibagikan nanti lebih bisa diterapkan di keluarganya. Kedua, Srikandi Hijau sendiri berisi para ibu. Jadi, tidak ada salahnya ikut menyiptakan srikandi-srikandi hijau baru lainnya di lingkungan rumah. Alasan terakhir, karena sekarang saya sudah masuk golongan ini hehe..

Setelah bikin corat coretan dikertas sekian lama akhirnya selesailah konsep acara. Temanya adalah ‘Berbagi Hijau ala Srikandi Hijau’ di lingkungan. Nah, seingat saya di desa tempat tinggal saya ada Kelompok Wanita Tani (KWT). Meski ada unsur ‘tani’ namun kelompok ini buka beranggotakan para petani. Anggotanya adalah ibu-ibu yang memang berminat untuk belajar bersama tentang berbagai keterampilan. Segera saya menghubungi pengurusnya yang kebetulan saya kenal (iyalah, kan sedesa hehe), Mba Dina. Rencananya saya mau ikut ‘mampir’ di pertemuan bulanan KWT. Namun, setelah mendengar konsep yang saya ajukan, Mba Dina justru menyediakan hari khusus untuk acara ini . Ternyata KWT sendiri memang sedang fokus ke soal penghijauan pekarangan rumah, jadi materinya bisa masuk. Bukan hanya itu, pengurus KWT juga memberikan tambahan doorprize untuk acara ini. Alhamdulillaaah, kecup sayang buat Mba Dina…

Akhirnya, acara ‘Srikandi Hijau Berbagi’ ini diselenggarakan 6 Januari kemarin di Pendopo Bapak Sutantoro. Ada dua materi yang akan disampaikan, yaitu tentang Gaya Hidup Hijau dan Pemanfaatan Lahan Pekarangan Rumah: Vertikultur.

Gaya Hidup Hijau

Acara dimulai pukul 10.00 WIB. Setelah Mba Dina membuka acara, saya memulai sesi materi pertama. Biar para ibu ini lebih konsentrasi dan melupakan urusan cucian serta kompor di rumah saya memberi sedikit ice breaking hehe. Alasan lainnya biar saya juga ikutan rileks. Duh, jangan sampai grogi di depan orang-orang yang mengenal dari jaman saya masih ‘kinyis-kinyis’ sampai udah punya ‘kinyis-kinyis’: guru TPA saya, tetangga, bude-bude, mbah tukang pijet, daaan ibu saya tercinta. Iya, ini pertama kalinya saya hadir bukan di acara pemuda desa tapi ibu-ibu. Hiks jadi sadar umur & status.

Publication2b

ice breaking

Berbekal 3 kali workshop tentang Green Lifestyle dan pengalaman pribadi saya nekat bercasciscus ria di depan para ibu ini. Bagaimanapun dalam menyampaikan sesuatu hal kita harus menyesuaikan dengan kapasitas diri, sehingga untuk ini saya lebih banyak menyontohkan serta memberi tip hijau ala saya.

Awalnya para ibu memahami gaya hidup hijau hanya tentang usaha penghijauan. Mereka belum tahu bahwa gaya hidup hijau adalah semua usaha serta perilaku kita yang berimbas pada kelestarian alam dan lingkungan. Jadi, selain penghijauan, juga usaha menghemat air, energi, mengolah sampah, menggunakan produk ramah lingkungan, serta mengonsumsi makanan lokal. Setelah mengetahui ini, ternyata ibu-ibu KWT yang kece ini memang sudah punya modal dasar tentang gaya hidup hijau. Sebagian justru sudah memraktekkan gaya hidup hijau seperti melakukan penghijauan, mengonsumsi makanan lokal baik yang beli maupun hasil lahan sendiri, mengurangi penggunaan bohlam, tidak membakar sampah, serta melakukan penghematan air. Nah, kan saya jadi belajar juga nih.

Publication6 copy

eh, saya…

Selanjutnya saya berbagi tentang tip-tip hidup hijau. Naluri kewanitaan membuat para ibu antusias pada tip-tip kecantikan yang saya berikan hehe. Misalnya soal kebiasaan menyuci wajah dengan air bekas cucian beras untuk mencerahkan wajah. Saking semangatnya beberapa ibu dengan bertanya mulai dari bagaimana caranya? beras apa yang digunakan? harus beras dengan merek tertentukah? dan sebagainya. Saya jawab, caranya dengan menyuci wajah dengan air sisa cucian beras dengan harga berapapun serta merek apapun. Sepengetahuan saya, semakin tinggi harga beras tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kecerahan wajah. Eh, benar kan? (kalau salah, mohon koreksiannya ya ;D).

Satu tip lainnya yang saya berikan adalah tentang menghilangkan bau cat baru dalam ruangan. Untuk menghilangkan bau ini saya biasanya memakai teh atau kopi. Caranya adalah dengan menaburkannya di berbagai tempa seperti sudut ruangan dan jendela. Sampai sekarang cara ini ampuh untuk menghilangkan bau cat hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Setelah 45 menit berbagi pengetahuan, tip, tanya jawab, serta bagi-bagi doorprize, selesailah sesi satu dari saya. Dilanjutkanlah dengan materi dua 🙂

Vertikultur

Pemateri kali ini adalah Mba Ela dan Mas Andika. Mereka adalah dua orang aktivis jebolan Indonesia Mengajar yang kini mengabdikan diri untuk memberdayakan masyarakat di daerah Seyegan. Dengan super baik hatinya mereka rela membantu saya *geer*. Kebetulan memang Mas Andika dan Mba Ela sedang concern di soal pertanian & penghijauan sehingga dengan senang hati mau berbagi. Untuk acara ini mereka secara khusus berbagi tentang vertikultur.

Publication10 copy

ice breaking lagi biar ga ngantuk

Awalnya Mba Ela menyampaikan tentang pengertian vertikultur, yaitu teknik menanam secara vertikal. Sekarang ini vertikultur marak dilakukan di lingkungan rumah sebagai solusi lahan yang terbatas. Mba Ela memperlihatkan contoh-contoh gambar vertikultur untuk lingkungan rumah. Ada yang menggunakan batang pohon pisang, pipa, serta botol bekas. Bikin mupeng.

Sama seperti sesi sebelumnya, ibu-ibu antusias bertanya. Di sini mereka banyak sharing dan curhat. Mulai dari cara membuat media vertikultur, tananam yang cocok dengan medianya, serta masalah ‘sakit’nya tanaman di rumah. Bahkan ada yang tanya tentang makanan organik untuk lele. Out of topic ya? Tapi tetap dijawab oleh Mas Andika yang ternyata juga ahli dalam bidang per’lele’an. Waw!

DSCN4019

Mas Andika

Setelah penjelasan serta sesi tanya jawab selesai dimulailah sesi praktek yang sifatnya kompetisi. Ibu-ibu dibentuk menjadi 3 kelompok, masing-masing terdiri dari 5-6 orang. Mereka diminta untuk membuat contoh media vertikultur menggunakan botol bekas. Kelompok yang membuat media vertikultur yang paling baik dan sesuai akan mendapat hadiah super keren. Tanpa banyak menunda waktu semua kelompok langsung khusyuk pada tali, paku, gunting, serta botol bekas di hadapan mereka.

DSCN4029 copy

DSCN4025 copy

DSCN4028 copySetelah waktu yang disepakati habis, perwakilan kelompok diminta untuk menunjukkan hasil karya masing-masing. Mereka juga diminta untuk menjelaskan serta menerangkan keunggulan media yang mereka buat. Setelah melalui proses penjurian maka kelompok yang dinyatakan menang adalah kelompok 3. Media vertikultur yang dibuat dinilai paling rapi, seimbang, serta diberi lubang resapan air yang cukup. Selamaaat…untuk itu kelompok 3 berhak mendapatkan tas keren untuk belanja dari Srikandi Hijau..yeeeayy.

DSCN4036 copy

presentasi hasil karya

DSCN4042 - Copy

berfoto sama kelompok 3 & tas kece 🙂

 2 jam  berbagi dengan ibu KWT desa Sodanten. Mungkin lebih tepatnya saling berbagai karena para ibu ini juga memiliki pengalaman seputar hidup hijau yang sudah dijalankan.  Semoga semangat hijau ini semakin tersalurkan ke keluarga masing-masing. Amin.

Sebelum pulang, tidak lupa dulu untuk berfoto cantik. Salam Hijau

???????????????????????????????

salam hijauuu dari ibu-ibu KWT Desa Sodanten..

—————————————————————————————————————————————————————————————–

Rangkaian Srikandi Hijau telah berakhir. 2 bulan sudah bersama para Srikandi Hijau lainnya menantikan dengan penasaran ‘pesan cantik’ yang rutin dikirim via sms (penasaran deh sama sosok dibaliknya;p). Ke depannya pasti akan kangen hehe. Semoga dengan berakhirnya rangkaian ini tidak menghentikan langkah masing-masing. Ditunggu selalu sharing ilmu tentang Hidup Hijaunya…

Salam Hijau,

Kachan

Setiap orang punya cara untuk merayakan hari-hari spesial dalam hidup mereka, begitu pula dengan kami. Semenjak menikah saya dan R pernah bersepakat melakukan sesuatu yang lain untuk merayakan hal-hal spesial dalam hidup kami. Yaitu merayakan hari spesial dengan menanam pohon.

Mungkin ini adalah salah satu hal yang bisa kami berikan untuk menebus atribut ‘mapala’ yang pernah kami sandang. Ya, masa-masa itu kami lebih banyak menikmati alam tanpa berkontribusi banyak padanya.

Pohon pertama yang pernah kami tanam adalah Delima. Ini kami pilih untuk menandakan momen spesial pernikahan kami. Karena sudah agak langka, kami baru bisa menanamnya beberapa waktu setelah menikah. Sekarang Si Delima sudah tumbuh subur di halaman rumah mertua saya dengan buah pertamanya yang siap dipanen.

Desember ini, kami menanam lagi untuk merayakan suatu momen spesial. Sebuah tanaman penyambutan. Dan Si Bunga Matahari pun dipilih untuk menerangi musim hujan di bulan kelahiranmu ini, Indira Kinanthi Abdillah 🙂

Sudah lama sebenarnya saya ingin menanam bunga matahari, namun agak susah mencari bibitnya. Syukurlah niat untuk menyambut si Kecil dengan bunga ini berhasil dipenuhi salah satu toko online.

***

Dalam menanam bunga matahari, ada beberapa petunjuk yang diberikan oleh penjual agar hasil tanam lebih maksimal:

  • Waktu tanam terbaik adalah sekitar jam 4 sore
  • Sebelum ditanam sebaiknya biji bunga matahari direndam dengan air selama 1/2 – 1 jam
  • Buat lubang berjarak 5 cm di media tanam dalam wadah. Masukkan 2-3 biji bunga matahari perlubangnya
  • Tutup lubang, kemudian siram dengan air
  • Letakkan di tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung sampai benih tumbuh sekitar 20 cm. Baru setelah itu siap dipindahkan ke tempat yang mendapat cahaya matahari langsung

DSCN3924 copy

DSCN3927

Si Bunga Matahari selesai ditanam, semoga benih-benihnya tumbuh dengan baik. Agar bisa menyambutmu dengan manis, sekaligus menyegarkan Si Ijo (nama rumah kami – ada dipostingan sebelumnya).

Mari merayakan segala sesuatu bersama dengan alam.

Salam Hijau,

 

Kachan

 

#Tantangan2 #SrikandiHijau #SH_12

Halo …

Semenjak mendiami Si Ijo (panggilan untuk rumah kontrakan kami, biar akrab hehe) saya sudah meniatkan diri untuk membuatnya hijau secara fisik dan mental. Secara fisik si Ijo memang sudah berwarna dominan hijau. Sedangkan secara mental, masih kurang segar. Karena apa? Si Ijo kami ini ngga punya lahan tanah. Yang ada hanya teras berubin. Apalagi Si Ijo dibangun menantang arah Timur. Lengkaplah sudah kegersangan jika tidak segera dihijaukan mentalnya.

Oleh karena itu, 2 minggu yang lalu saat R cuti kami mampir ke pasar tanaman di Tlagareja, Jalan Godean. Kami membeli 3 buah tanaman hias. Sengaja tidak membeli banyak karena belum yakin tangan kami ‘dingin’ untuk menanam banyak tanaman. Kalau beli banyak dan berujung mati sia-sia – sayang kan. Saya memilih bunga lilin, lavender, dan si kesayangan, aster. Untuk tambahan, kami  membeli bibit sayuran bayam dan selada. Nah, sebagai pelengkap, berhubung kami tidak punya tanah, jadi kami juga membeli  media tanam organik. Harganya cukup murah sekarung besar 15 ribu.

***

Sebagai awalan saya menanam si trio dulu: lilin, levender, aster. Karena sudah punya media tanam jadi sangat memudahkan. Tinggal memindahkan tanaman ke pot baru yang sudah diberi media tanam.

Camera 360

Camera 360

Camera 360

Selama 2 minggu, para tanaman mengalami pasang surut. Agak layu, agak kering, sampai akhirnya mulai stabil. Dan seperti inilah penampakan kecil di depan Si Ijo sekarang. Lumayan sedikit segar buat dilihat. Apalagi dapat tambahan dua kamboja dari rumah ibu. Sekarang, jadi semangat buat menanam benih dan tanaman yang lain. Tidak ada alasan untuk tidak menghijaukan rumahmu seminim apapun lahannya 🙂

DSCN3923 copy

***

Harusnya postingan ini dipublish minggu lalu. Namun, ada rencana indah lain yang harus dilakukan. Membantu si Srikandi Hijau junior untuk menghirup udara di bumi :))

Salam Hijau,

Kachan

#SrikandiHijau #Tantangan2 #SH_12

Minggu lalu saya dapat tantangan dari Srikandi Hijau untuk mengupload foto meteran listrik tanggal 26 November 2014 dan 3 Desember 2014. Dan beginilah penampakkannya.

perbandingan meteran copy

perbandingan meteran listrik selama seminggu

Jika dihitung, foto pertama menunjukkan angka 65.69 Kwh sedangkan foto seminggu setelahnya 51.98 Kwh

65.69 – 51.98 = 13.71 Kwh.

Jadi pemakaian listrik saya selama seminggu sebesar 13.71 Kwh

Saya membeli listrik prabayar ini sebesar 45 ribu dan  mendapat 60 Kwh. Brarti harga listrik per Kwhnya sekitar 750 rupiah. Jika ditotal pengeluaran listrik saya selama seminggu 750 x 13.71 Kwh = 10282.5 rupiah

Buat saya penghematan ini tidak lepas dari kontribusi sebuah barang yang baru-baru ini saya pakai 🙂

***

“Ini mahal ya, Mba?”, tanya pak tukang sambil menunjukkan lampu ditangannya.

Jujur saya bingung menjawab. Di satu sisi benar harga lampu itu memang lebih mahal dari jenis lampu lainnya, namun disisi lain jika dilihat dari jangka panjang maka lampu ini lebih murah.

“Lumayan, Pak. Tapi ini didiskon 10 ribu per buah lho”. Saya memutuskan untuk menjawab demikian dahulu baru menjelaskan setelah selesai dipasang.

Tidak berapa lama, saya kembali mendengar suara Pak Tukang dari dalam kamar “Mba, ini 4 watt terang banget ternyata”, Intonasi suaranya terdengar heboh. Saya pun segera menghampiri.

Sebelum saya menjawab, Pak Tukang sudah memegang kardus lampu sambil bilang “Oalaah, pantes mba, ini masa katanya sama kayak 40 watt”.

Saya langsung membenarkan omongannya. Mau tak mau saya senang karena Pak Tukang menemukan sendiri beberapa alasan kenapa saya membeli lampu tsb. Jadi saya tinggal menambahkan beberapa info lain berkenaan dengan manfaatnya. Saya di awal sengaja tidak mau hanya sekadar memberitahukan harga lampu tsb. Ya, tidak ingin dianggap suka berboros ria hanya untuk lampu. Karena memang bukan itu. Saya ingin orang lain juga tahu hal sebenarnya. Buat saya ini bisa jadi ajang untuk sharing informasi soal memakai greenproduct ke orang lain (saat itu pada Pak Tukang).

***

Buat yang belum tahu. Lampu yang dibicarakan antara saya dan Pak Tukang tsb adalah lampu jenis LED. Lampu  4 watt yang saya beli ini seharga 50 ribuan/buah namun didiskon 10 ribu. Lantas apa benar lampu ini mahal?. Bisa jadi.

Saya membeli 4 buah,  2 buah 4 watt, 2 buah lagi 7 watt (harganya lebih mahal lagi). Jika ditotal memang akan membuat pengeluaran cukup banyak di awal. Iya, ini akan jadi pengeluaran yang terasa mahal jika kita melihatnya hanya dari harga beli. Namun jika dihitung secara keseluruhan mulai dari manfaat dan efeknya pada pemakaian listrik, ternyata lebih murah.

Lampu ini memiliki cahaya putih yang ramah dimata. Lampu LED juga merupakan lampu  hemat energi. Lampu 4 watt yang saya beli cahayanya setara dengan 40 watt lampu pijar. 10 kali lipat. Bisa dibayangkan jika itu dikalkulasikan ke penggunaan listrik kita tiap bulan. Selain menghemat energi kita juga menghemat pengeluaran. Salah satu efeknya yang saya rasakan ada di meteran listrik saya :).

DSCN3915

cahaya asli jauh lebih putih dan terang, ini efek kamera…

Beberapa tahun yang lalu jenis lampu LED memang masih sangat mahal di pasaran. Namun saat ini harganya berangsur menurun tanpa mengurangi kelebihannya. Sepertinya ini tidak lepas dari mulai banyaknya orang yang menyadari manfaat dari LED, sehingga produsen semakin banyak dan harga pun bersaing baik.

Selamat belajar menghemat energi di rumahmu 🙂

Salam

Kachan

#SrikandiHijau #Tantangan1 #SH_12 #SaveEnergy

Saya dan R sekarang resmi jadi kontraktor.

Lho, R pindah kerja kah? Oh nggak kok. Saya hanya meminjam istilah Mak Ida KEB – kontraktor. Iya, kami sekarang jadi pelaku ngontrak rumah hehe. Selangkah lagi untuk belajar mandiri meski jarak tinggal dengan orang tua hanya seuprit.

Karena alasan itu pula sebulan ini saya lebih banyak di rumah. Terlebih R nun jauh di sana, jadi saya lah yang bertanggungjawab memimpin proses perpindahan ini *duh bahasanya*.

Setelah saya cek awal kondisi rumah baru, hal pertama yang sepertinya harus dilakukan adalah mengecat ulang tembok rumah. Penghuni sebelumnya sepertinya  sudah lama tidak memperbaharui cat. Lagipula mengecat ulang rumah biasa memunculkan suasana baru 🙂

Suasana baru yang ramah lingkungan

Beberapa waktu belakangan ini saya memang mulai melirik pola hidup yang lebih ‘hijau’. Saya sering diskusi dengan R tentang ini. Kebetulan suami saya ini memang sudah lebih banyak mengaplikasikan gaya hidup hijau dibandingkan saya. Selain diskusi dengannya saya juga menyempatkan diri ikut beberapa workshop terkait. Ingin menambah ilmu untuk belajar sedikit demi sedikit ke arah sana. Tujuannya tentu untuk manfaat yang lebih baik bagi diri, lingkungan, dan alam.

Saya masih ingat di salah satu workshop yang saya hadiri ada pembahasan soal pemilihan cat yang ramah lingkungan. Tentang ciri dan tip dalam memilihnya. Saya langsung mendiskusikannya dengan R. Tentu saja ia langsung setuju.

Jadi, ada dua syarat utama dalam memilih cat yang ramah lingkungan:

  1. Bebas Merkuri :  Harus ada pernyataan yang menunjukkan bahwa cat tsb tidak mengandung merkuri dan zat beracun lainnya. Produk yang mengandung merkuri tentu berbahaya karena bisa memicu terjadinya kanker. Jadi sebisa mungkin cermati tanda-tanda di bagian kaleng cat.
  2. Waterbased : Jenis cat tsb harus bisa larut dalam air. Baik dalam proses untuk melarutkannya maupun pada saat   pembersihan.

Sekadar tambahan, biasanya produsen cat yang menggunakan produk yang tidak ramah lingkungan tidak akan berani menyantumkan logo bebas zat tertentu.

 

DSCN3919

cek tanda-tanda di kalengnya ya. foto: doc. pribadi

Untuk lebih meyakinkan diri, sebelum memilih kita bisa mencari tahu terlebih dahulu tentang cat-cat yang ramah lingkungan. Bisa bertanya pada tukang ataupun langsung googling. Saya sendiri lebih memilih untuk mencari tahu di internet tentang label-label cat yang ramah lingkungan.

Yuk, yang sedang ingin melakukan perubahan warna rumah untuk menyambut tahun baru mungkin bisa melirik untuk memakai cat yang ramah lingkungan.

Salam Hijau,

Kachan

#Tantangan1 #SrikandiHijau #SH_12

Saya inget banget,

Malem itu si baby bala-bala sibuk ngglundungan ampe menjelang pagi. Alhasil jatah tidur cantik berkurang drastis. Pagi hari pun berujung sambutan  si mata panda yang udah ‘nangkring’ dengan manisnya. Padahal hari itu ada dua acara: kondangan plus ketemu emak-emak kece. Tapi tenang, nak, kamu tidak bersalah ;D

Langsung buka lemari es, cari-cari yang bisa diakali buat mengurangi ngantuk plus si panda. Ketemulah si tomat dan air es ini.

Caranya :

Potong kecil-kecil tomat lalu  haluskan/uleg dengan sendok, atau bisa juga langsung diblender. Oleskan tomat pada mata panda yang sebelumnya sudah di kompres dengan air es. Diamkan selama 15 menit, lalu cuci dengan air hangat.

DSCN3157

tomat

Tip sederhana ini bukan untuk langsung menghilangkan si panda, melainkan membantu mengurangi. Alhamdulillah cukup jadi solusi buat saya di hari itu. Bengkak mata pandanya agak berkurang. Jadi bisa lanjut temu cantik dengan teman-teman dan emak-emak 😀

IMG_23859860393885

bisa mejeng kece bareng KEB deh 😀 (doc. mak gracie melia)

Salam,

Kachan

Rasanya bisa membayangkanmu merajuk meminta lagi untuk mengisi piring kosong ini. Setelah sepiring nasi panas & telur dadar sebelumnya habis tak bersisa. “Sudah ya”, jawabku. Sebuah ‘kode’ khas nyatanya membuatku  bangkit seketika untuk mengisi piring dengan nasi dan potongan telur dadar terakhir. Semoga mbah Kung tidak terbangun dini hari untuk menyantap telur dadarnya yang kini siap dilahap. Maaf ya, Mbah.

Ini sudah hampir tengah malam. Kamu mulai mengirimkan sinyal untuk meminta waktu lebih untuk terjaga. Tak seperti hari-hari biasanya saat kita saling memaksa keinginan, kali ini aku mengikutimu, maumu. Lagi-lagi tak kuasa menolakmu.

***

Ketika nyenyak tak berarti, kenyang tak penting, keinginan tak mutlak, karenamu.

Kita sudah sekian lama bersama, berbagai banyak hal.

Kamu pasti mengingat, aku berjanji banyak padamu. Dan kamu pasti tahu, bahwa tidak atau belum semua janji itu tertepati dengan baik. Kini, kuputuskan untuk tidak menambahkan janji-janjiku.

Bagaimana mungkin aku berjanji banyak padamu jika hampir setiap waktu tidak mengingat apa yang seharusnya kamu dapat, dalam berbagai hal? Ah ya, seperti vitamin tadi. Yang harusnya kuminum setiap malam. Di hari-hari sebelumnya aku sering terlupa, bahkan sengaja melupakannya. Maaf.

Jadi, ijinkan aku untuk memperbaiki janji yang tersisa. Sekarang kita adalah teman baik. Jangan ragu, ingatkan aku yang kadang perlu memang perlu diingatkan.

 ***

Padanya yang mulai mendengar…

Apa yang sudah kau dengar dari sana?

Janjiku adalah lantunan doa akan slalu mengiringimu, menemanimu, menerangimu.

Khilafku, maaf untuk doa yang tak selalu terlantunkan, suara yang tak sesuai janji, intonasi yang tidak layak, getaran yang tidak menyejukkan.

Padanya yang mulai merasakan…

Apakah kamu merasakan apa yang kurasakan?

Harapku tidak. Biar kupilih dengan hati-hati semua rasa yang patut kamu terima. Seperti janjiku, untuk slalu bermain denganmu dalam sukacita dan rasa damai.

Salahku,  hati ini masih sangat jauh untukmu belajar merasa. maaf.

Sekali lagi,

Maaf ya, Nak untuk semua hal yang belum layak  sampai sekarang ini. Untuk semua alasan yang dibuat-buat dengan mengesampingkanmu. Bismillah, kita saling menjaga, menyemangati.

Peluk sayang,  sampai ketika Tuhan memperkenankan kita bertemu nanti. Sehat selalu, Nak.

selamat duatujuh, love you

 

pagi kumulai stengah lusin pensil tanpa penghapus..

siang kucandai hingga selesai

sore kuberdoa

akhirnya tak pernah kusampaikan

karena pangeranku tak pernah muncul lagi di malam hari 

 

Hari-hari itu tak banyak tawa terbahak, namun senyum selalu terkilas

Tak ada musik bingar, alunan lembut yang terdengar dari jiwa

Masing-masing duduk, berkata untuk mengingatkan

mungkin   aku rindu..

bersama mereka selalu merasa kehidupan abadi itu nyata

lingkaran-lingkaran pemuja-Mu, rekatan jari pecinta-Mu,,

aku benar-benar rindu, mereka, orang-orang terkasihMu..

 

 

kakak, 

bagaimana kabar kelinci-kelinci yang membeku? 

dilain waktu aku pernah melihat mereka.

sudah berbeda namun ditempat yang sama.

aku hampir berputar sekali untuk mengelilingi.

berharap bisa melihat taman dibaliknya.

 

halo, rumput hijau selalu terhampar luas melindungimu.

kakak pasti baik-baik saja. 

aku pun berharap demikian..

 

 

salam, 

 

si gadis manis itu